Gus Habib: Bangkit, Pelajar Cirebon Warisi Api Sumpah Pemuda, Bukan abunya

image

CIREBON,- Cirebon adalah tanah para wali sebuah kota yang kaya akan warisan tradisi, napas spiritualitas yang luhur, dan ketangguhan budaya yang diwariskan turun-temurun. Namun, di balik megahnya sejarah peradaban agung ini, kita sering kali terjebak dalam zona nyaman romantisme masa lalu.

Kita bangga bernarasi tentang masa lampau, tetapi kerap tertidur lelap ketika roda zaman berputar kencang ke era digital. Hari ini, hampir semua institusi pendidikan di Cirebon dari bangku sekolah menengah hingga lingkungan pesantren berlomba-lomba memamerkan label “sekolah digital”.

Ada baliho penerimaan siswa baru terpampang megah, brosur warna-warni menjanjikan aplikasi pembelajaran pintar, hingga ruang komputer ber AC yang tertata rapi. Namun, mari kita jujur menengok realitas di lapangan: lemahnya digitalisasi dalam praktik sering kali membuat kita tertinggal dalam ilusi kemajuan yang semu.

Pimpinan Pondok Pesantren Akmala Sabila, Talun, Dr. Muhamad Habib Khaerussani, M.Pd mengatakan lebih dari itu, situasi ini terasa sangat ironis jika ditarik kembali pada esensi Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda, Dulu Menyatukan Bahasa, Kini Menjebak Kita dalam “Konsumen Digital”.

“Hampir seabad lalu, para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan golongan berkumpul mengucapkan ikrar suci satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Indonesia. Mereka bersatu untuk mendobrak sekat-sekat perbedaan demi satu tujuan besar, kemerdekaan dan kedaulatan bangsa,” katanya, Rabu (28/10/2026).

Dikatakan pria yang akrab disapa Gus Habib tersebut, realitas di Lapangan, hari ini, para pelajar di Cirebon memang sudah “bersatu” dalam satu ruang maya, tetapi bukan sebagai bangsa yang berdaulat atas teknologi, melainkan sekadar konsumen pasif. Jempol begitu cekatan menggulir lini masa TikTok, jari cepat membalas pesan, dan aneka ragam hiburan digital dikuasai dalam hitungan detik.

“Teguran Keras, Jika gawai di tangan hanya menghabiskan kuota tanpa menghasilkan karya, menambah ilmu, atau melatih keterampilan, di mana letak semangat Sumpah Pemuda?. Sumpah Pemuda mengajarkan kita untuk menguasai keadaan, bukan dijajah oleh algoritma kesenangan semu,” katanya

Gus Habib juga mengatakan, pamer fasilitas, minim esensi mengingkari semangat perjuangan nyata. Para pahlawan muda tahun 1928 berjuang dengan keringat, darah, dan strategi nyata di lapangan, bukan sekadar retorika di atas kertas atau pamer simbol.

“Realitas di Lapangan, Di banyak sekolah hari ini, investasi digital sering kali berhenti pada pengadaan fisik semata, proyektor di setiap kelas, komputer lab yang dikunci rapat agar tidak rusak, atau sekadar absensi online demi laporan birokrasi. Internet terpasang kencang, tetapi hanya dipakai untuk streaming video hiburan saat jam kosong.

“Pelajar jarang sekali diajak memecahkan masalah nyata di lingkungan sekitar menggunakan teknologi. Teguran Keras, Teknologi tercanggih di ruang kelas akan menjadi percuma jika mental belajar kita masih mental “menunggu disuap”,” katanya.

Jangan bangga sekolahnya punya fasilitas digital canggih , dikatakan Gus Habib jika kepala dan kreativitas siswanya masih terjajah oleh kemalasan berpikir. Semangat Sumpah Pemuda menuntut aksi nyata, bukan sekadar pamer fasilitas.

“”Ego Silo” vs ikrar persatuan merawat identitas diruang digital,” katanya.

Lebih lanjut Gus Habib juga mengatakan, kekayaan budaya Cirebon mulai dari batik Trusmi, naskah kuno kesultanan, hingga kearifan para ulama nusantara sebenarnya adalah tambang emas konten dan riset digital. Sayangnya, ikrar persatuan kebangsaan sering kali luntur ketika kita dihadapkan pada gempuran budaya luar.

“Realitas di Lapangan, Kita lebih gemar meniru tren luar yang nir faedah ketimbang menggali potensi lokal dan membungkusnya dengan kreativitas digital modern. Akibatnya, identitas kultural kita tergerus oleh arus globalisasi yang hambar,” katanya.

Lebih lanjut Gus Habib mengatakan, teguran Keras, Anak Cirebon tidak boleh menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri. Jiwa Sumpah Pemuda seharusnya mendorong kita untuk menggunakan teknologi sebagai alat pemersatu dan pengangkat harkat budaya lokal ke kancah global, bukan malah membuat kita tercerabut dari akar identitas bangsa.

“Bangkit, pelajar cirebon warisi api sumpah pemuda, bukan abunya. Digitalisasi di lapangan tidak akan pernah berhasil jika manusianya terutama generasi muda dan pelajar—tidak mengubah mentalitas. Semangat Sumpah Pemuda hari ini harus diterjemahkan ulang ke dalam medan juang digital,” tandasnya

Dikatakan Gus Habib ubah Konsumsi menjadi produksi jangan cuma menonton konten orang lain. Jadilah kreator yang menyuarakan kebaikan, mencatat sejarah lokal, dan mendokumentasikan produktivitas.

“Kuasai Logika, Bukan Sekadar Trik, Pahami bagaimana teknologi bekerja, saring informasi dengan kritis, dan jauhkan diri dari hoaks yang memecah belah bangsa. Manfaatkan Tanpa Batas Ruang, Gunakan internet untuk menembus batas geografis Cirebon, menyerap ilmu seluas-luasnya, dan membuktikan bahwa anak muda Cirebon mampu berdaya saing global,” cetusnya.

Ditambahkan Gus Habib, orang Cirebon dikenal memiliki mental perantau yang tangguh, ulet, dan spiritualitas yang mengakar. Semangat Sumpah Pemuda bukanlah sekadar teks sejarah yang dibaca setiap tanggal 28 Oktober, melainkan api penggerak.

“Jangan biarkan ketertinggalan literasi digital memadamkan api tersebut. Sudah saatnya pelajar Cirebon berdiri tegak, berpegang pada adab dan agama, bertumpu pada kearifan lokal, dan melesat bersama teknologi yang jujur, cerdas, serta bermartabat demi kejayaan Indonesia,” tutupnya.***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *